
BAGAIMANA ISLAM DAN SAINS MENJELASKAN HATI MANUSIA?
Serial Kecerdasan Hati
Ubaydillah Anwar, CSC, CPT. | Heart Intelligence Specialist | www.akademisoftskills.com
Banyak yang masih bertanya-tanya, sebetulnya hati itu benda fisik atau hanya sebatas kata kiasan belaka? Setiap orang dapat menyampaikan tafsirnya sesuai latar belakang dan cakupan pengetahuan yang dimiliki. Tetapi Islam dan sains modern sebetulnya telah menyediakan penjelasan yang sangat utuh untuk dijadikan pedoman.
Islam dan sains menjelaskan bahwa dalam diri manusia ada dua hati, yaitu hati fisik dan hati spiritual. Hati fisik atau disebut jantung dalam bahasa Indonesia adalah bagian tubuh yang sangat vital, yang letaknya di dalam rongga dada sebelah kiri atas. Riset HeartMath Institute dan berbagai riset lain (Science of the Heart: Exploring the Role of the Heart in Human Performance: 2015) mengungkap bahwa ternyata jantung (hati fisik) bukan semata pusat peredaran darah, melainkan pusat kecerdasan juga.
Riset menemukan bahwa hati mengontrol sejumlah sistem dalam tubuh seseorang agar dapat berfungsi secara harmonis satu sama lain (global co-ordinator). Hati menjadi pusat emosi dan ketika emosi manusia berubah menjadi negatif, maka seluruh sistem dalam tubuh kacau, misalnya saat seseorang marah atau stres.
Hati memiliki otak dengan sistem yang kompleks dan independen (heart brain). Otak hati inilah yang disebut kecerdasan yang mampu belajar, mengingat, merasakan, dan mengolah rasa. Otak hati inilah yang memproses informasi yang diperoleh dari sensor hati lalu hasilnya dikomunikasikan ke otak dan ke bodi manusia. Hati menciptakan keputusan sendiri, tidak bergantung pada pikiran.
Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadits menjelaskan kedudukan hati jantung ini. Beliau bersabda, “Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung).” (HR. Bukhari dan Muslim).
Masyarakat Mesir kuno, Afrika, Yunani, dan masyarakat nusantara menggunakan gambar jantung sebagai simbol kehakikatan, kesejatian, dan cinta.
Lalu bagaimana dengan hati spiritual? Imam Ghazali menjelaskan bahwa hati rohani adalah makhluk spiritual yang tidak kelihatan, yang memiliki kapasitas sebagai sumber pengetahuan, pihak yang diajak bicara oleh Allah SWT, pihak yang akan diminta pertanggung jawaban, dan pihak yang senantiasa percakapan di dalamnya dimonitor oleh Allah SWT. Hati rohani bersemayam di jantung. “Keduanya (hati jasmani dan hati rohani) memiliki hubungan yang kompleks yang sulit dijelaskan oleh manusia,” demikian tulis beliau dalam kitab Ihya.
Al-Quran menyebut hati rohani dengan berbagai fungsinya tidak kurang dari 230 kali dalam 4 istilah, yaitu: ash-sudur (dada), al-qalbu (hati), al-fuad (hati kecil), al-albab (akal). Selain itu, al-Quran juga menyebut mata hati (bashiroh) yang selalu dapat melihat kebenaran, meskipun terkadang kebenaran yang dilihat oleh mata hati ini ditentang oleh hati manusia sendiri.
Rasulullah SAW juga membahas hati rohani ini di lebih dari 100 hadits. Salah satu yang mashur misalnya: “Apabila seorang hamba apabila melakukan kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali berbuat kesalahan, maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. . . .”, diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dari Abu Hurairah.
Hati rohani inilah yang dipahami dan dipakai oleh manusia sepanjang sejarah untuk mengiaskan berbagai sifat manusia, misalnya sepenuh hati, setengah hati, tidak memiliki hati, hati tertutup atau mati, hancur hati, berbunga-bunga hati, dan seterusnya. Mahatma Gandhi memiliki istilah:“It is better in prayer to have a heart without words than words without a heart.”
Meski riset sains tidak menyebut eksistensi hati rohani secara gamblang, tetapi penjelasannya mengenai kecerdasan hati tidak terpisah dari aktivitas hati rohani. Riset mengungkap bahwa hati (jantung) akan cerdas (memiliki kemampuan yang optimal) apabila hati memproduksi emosi positif. Bukti kecerdasan itu ditandai dengan koherensi: kondisi dimana hati di dada dan otak di kepala memiliki hubungan yang harmonis dan sinergis, seperti mesin yang siap untuk berperforma tinggi.
Ajaran para nabi yang disampaikan Islam menyuruh kita untuk menciptakan emosi positif (alhamdulillah), optimis (subhanallah), berprinsip pada kebenaran (lailaha illallah), dan terus berjuang (allahu akbar). Untuk menjaga kondisi ini, Islam menyuruh kita berdzikir di pagi dan sore hari. Berdzikir sejatinya bukan melafadkan kata atau kalimat, tetapi menghidupkan kesadaran hati. Istilah yang dipakai para saintis untuk menjaga kondisi hati agar tetap memproduksi emosi positif adalah heart-lock-in (mengunci kondisi hati).
Semoga bermanfaat.
0 comments
Write a comment