Akademi Soft Skills Indonesia

News

Artikel

APAKAH SESEORANG SEDANG MEMPENGARUHI ATAU MEMANIPULASI ANDA?

Ubaydillah Anwar, CSC, CPT. | Heart Intelligence & Soft Skills Specialist

Mempengaruhi dan memanipulasi adalah dua hal yang berbeda, sekalipun perbedaan itu halus dan tipis. Ketika menjelang lebaran, banyak tipuan arisan yang sukses karena keberhasilan dalam mempengaruhi lalu memanipulasi. Tipuan yang berkedok bisnis investasi dengan keuntungan yang menggiurkan pun kerap menggunakan pengaruh lalu manipulasi.

Mempengaruhi adalah istilah netral untuk menjelaskan kapasitas seseorang dalam menghasilkan efek tertentu pada orang lain. Misalnya, menggerakkan, menghentikan, atau membelokkan. Dakwah pun sebetulnya mengandung aktivitas untuk mempengaruhi. Guru, orangtua, penulis, sahabat, atau politisi juga banyak melakukan praktik mempengaruhi.

Artinya, kegiatan mempengaruhi dibedakan menjadi dua: a) pengaruh positif (positive influencing) dan b) pengaruh negatif (negative influencing). Pada praktik pengaruh positif, seseorang menggunakan cara-cara yang baik, terbuka bagi pihak-pihak yang terlibat, dan hasilnya untuk kebaikan, kebahagiaan, atau kenyamanan pihak-pihak yang terlibat (win-win).

Robert Caldini, profesor dari Arizona State University, dalam Influence: The Psychology of Persuasion (2006) menyebut sebagai ethical persuasion (rayuan etis) yang mengangkat kejujuran dan saling menghormati. Jika seseorang dapat menggunakannya dengan baik, maka akan menghasilkan hubungan yang panjang, saling percaya, bahkan saling menguntungkan.

Manipulasi adalah bagian dari upaya seseorang untuk menciptakan pengaruh tertentu pada seseorang demi interest dan keuntungan sepihak. Setidak-tidaknya, manipulator menempatkan Anda sebagai korban atau pihak yang lemah. Cara yang digunakan seringkali tersembunyi, tertutup, atau bahkan misteri. Biasanya, seseorang dapat memanipulasi karena memiliki power tertentu, misalnya power kharisma, jaringan, kekuasaan, kekayaan, keahlian, atau kedekatan.

Modus untuk mendapatkan power tersebut beragam. Yang paling umum adalah menyalahkan atau menunjukkan kelemahan Anda, entah itu karya, penyakit, atau kinerja. Setelah Anda mengakui, di sinilah manipulasi beraksi. Anda harus bergantung kepadanya demi interest pribadinya.

Cara lain adalah menggunakan pujian atau kedekatan tertentu agar Anda mau melakukan sesuatu demi interest-nya. Manipulator juga kerap menggunakan modus perbandingan. Misalnya, Anda dibandingkan dengan orang lain untuk menunjukkan bahwa Anda tertinggal, salah langkah, atau yang lain. Setelah itu, Anda diarahkan untuk mengikuti jalan hidup yang telah ia siapkan demi interest-nya.

Manipulator juga tak segan menggunakan cara-cara yang menggelapkan seseorang mengenai dunia ini atau orang lain. Misalnya, dia menjelek-jelekkan seseorang agar Anda mengikutinya atau bertindak atas nama kepentingannya.

Mengatasi praktik manipulasi dalam hubungan, tidak cukup hanya dengan menyalahkan atau mem-black-list orang. Harus ada upaya dari dalam. Ingat, dalam situasi tertentu, pertahanan lebih dahsyat dari penyerangan. Untuk memperkuat pertahanan, upaya yang perlu dilakukan adalah memperkuat power personal, proaktif, dan perlindungan.

Power Personal

Power personal berarti Anda menunjukkan kekuatan diri dan ini dapat dilakukan dengan menyatakan “Tidak”, tanpa menjelaskan argumentasi jika itu menyangkut wilayah pribadi. Bisa juga Anda menggunakan argumentasi untuk menandingi atau membatalkan upaya manipulatif dari seseorang. Ini dapat memberikan signal agar manipulator menghentikan manipulasinya.

Proactive

Anda setuju atau tidak terhadap ucapan atau ajakan manipulator, sebaiknya jangan mengambil keputusan karena dia. Anda butuh waktu untuk memutuskan dan itu datangnya dari dalam diri. Semakin reaktif (mengikuti arus orang atau keadaan) seseorang, semakin mudah manipulator beraksi. Putuskan langkah berdasarkan pertimbangan, pengetahuan, dan kebutuhan Anda (proactive: mengambil keputusan karena pilihan Anda).

Perlindungan

Tidak semua jebakan hidup ini dapat kita kontrol situasinya dengan kapasitas dan pilihan yang kita miliki. Karena itu, agama mengajarkan doa untuk memohon perlindungan kepada Allah SWT, dari tekanan manusia yang destruktif, rayuan setan dan manusia, dan urusan yang melelahkan.

Semoga bermanfaat.

Artikel

BAGAIMANA ISLAM DAN SAINS MENJELASKAN HATI MANUSIA?

Ubaydillah Anwar, CSC, CPT. | Heart Intelligence Specialist | www.akademisoftskills.com

Banyak yang masih bertanya-tanya, sebetulnya hati itu benda fisik atau hanya sebatas kata kiasan belaka? Setiap orang dapat menyampaikan tafsirnya sesuai latar belakang dan cakupan pengetahuan yang dimiliki. Tetapi Islam dan sains modern sebetulnya telah menyediakan penjelasan yang sangat utuh untuk dijadikan pedoman.

Islam dan sains menjelaskan bahwa dalam diri manusia ada dua hati, yaitu hati fisik dan hati spiritual. Hati fisik atau disebut jantung dalam bahasa Indonesia adalah bagian tubuh yang sangat vital, yang letaknya di dalam rongga dada sebelah kiri atas.  Riset HeartMath Institute dan berbagai riset lain (Science of the Heart: Exploring the Role of the Heart in Human Performance: 2015) mengungkap bahwa ternyata jantung (hati fisik) bukan semata pusat peredaran darah, melainkan pusat kecerdasan juga.

Riset menemukan bahwa hati mengontrol sejumlah sistem dalam tubuh seseorang agar dapat berfungsi secara harmonis satu sama lain (global co-ordinator). Hati menjadi pusat emosi dan ketika emosi manusia berubah menjadi negatif, maka seluruh sistem dalam tubuh kacau, misalnya saat seseorang marah atau stres.

Hati memiliki otak dengan sistem yang kompleks dan independen (heart brain). Otak hati inilah yang disebut kecerdasan yang mampu belajar, mengingat, merasakan, dan mengolah rasa. Otak hati inilah yang memproses informasi yang diperoleh dari sensor hati lalu hasilnya dikomunikasikan ke otak dan ke bodi manusia. Hati menciptakan keputusan sendiri, tidak bergantung pada pikiran.

Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadits menjelaskan kedudukan hati jantung ini. Beliau bersabda, “Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung).” (HR. Bukhari dan Muslim).

Masyarakat Mesir kuno, Afrika, Yunani, dan masyarakat nusantara menggunakan gambar jantung sebagai simbol kehakikatan, kesejatian, dan cinta.

Lalu bagaimana dengan hati spiritual? Imam Ghazali menjelaskan bahwa hati rohani adalah makhluk spiritual yang tidak kelihatan, yang memiliki kapasitas sebagai sumber pengetahuan, pihak yang diajak bicara oleh Allah SWT, pihak yang akan diminta pertanggung jawaban, dan pihak yang senantiasa percakapan di dalamnya dimonitor oleh Allah SWT. Hati rohani bersemayam di jantung. “Keduanya (hati jasmani dan hati rohani) memiliki hubungan yang kompleks yang sulit dijelaskan oleh manusia,” demikian tulis beliau dalam kitab Ihya.

Al-Quran menyebut hati rohani dengan berbagai fungsinya tidak kurang dari 230 kali dalam 4 istilah, yaitu: ash-sudur (dada), al-qalbu (hati), al-fuad (hati kecil), al-albab (akal). Selain itu, al-Quran juga menyebut mata hati (bashiroh) yang selalu dapat melihat kebenaran, meskipun terkadang kebenaran yang dilihat oleh mata hati ini ditentang oleh hati manusia sendiri.

Rasulullah SAW juga membahas hati rohani ini di lebih dari 100 hadits. Salah satu yang mashur misalnya: “Apabila seorang hamba apabila melakukan kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali berbuat kesalahan, maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. . . .”, diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dari Abu Hurairah.

Hati rohani inilah yang dipahami dan dipakai oleh manusia sepanjang sejarah untuk mengiaskan berbagai sifat manusia, misalnya sepenuh hati, setengah hati, tidak memiliki hati, hati tertutup atau mati, hancur hati, berbunga-bunga hati, dan seterusnya. Mahatma Gandhi memiliki istilah:“It is better in prayer to have a heart without words than words without a heart.”

Meski riset sains tidak menyebut eksistensi hati rohani secara gamblang, tetapi penjelasannya mengenai kecerdasan hati tidak terpisah dari aktivitas hati rohani. Riset mengungkap bahwa hati (jantung) akan cerdas (memiliki kemampuan yang optimal) apabila hati memproduksi emosi positif. Bukti kecerdasan itu ditandai dengan koherensi: kondisi dimana hati di dada dan otak di kepala memiliki hubungan yang harmonis dan sinergis, seperti mesin yang siap untuk berperforma tinggi.

Ajaran para nabi yang disampaikan Islam menyuruh kita untuk menciptakan emosi positif (alhamdulillah), optimis (subhanallah), berprinsip pada kebenaran (lailaha illallah), dan terus berjuang (allahu akbar). Untuk menjaga kondisi ini, Islam menyuruh kita berdzikir di pagi dan sore hari. Berdzikir sejatinya bukan melafadkan kata atau kalimat, tetapi menghidupkan kesadaran hati. Istilah yang dipakai para saintis untuk menjaga kondisi hati agar tetap memproduksi emosi positif adalah heart-lock-in (mengunci kondisi hati).

Semoga bermanfaat.

 

 

 

Artikel

MAMPUKAN TRAINING MENCIPTAKAN PERUBAHAN DI ORGANISASI?

Ubaydillah Anwar | Heart Intelligence & Soft Skills Specialist

Pendapat yang menjawab pertanyaan di atas, memang ada dua. Ada yang pesimis dan ada yang optimis. Tapi bagaimana praktik yang terjadi di lapangan sebenarnya; apakah perubahan itu benar-benar terjadi atau hanya klaim?

Training dapat dipastikan mampu menciptakan perubahan, tapi skalanya di level pribadi.  Perubahan di level ini memang beragam. Ada yang berubah di level pengetahuan saja, pengetahuan plus sikap, dan pengetahuan, sikap, lalu perilaku (cara kerja). Ini tergantung orang, materi, dan konteks lain.

Bahkan untuk materi soft skills tertentu, misalnya kolaborasi atau memimpin, proses perubahan tak jarang harus mengikuti hierarki Taxonomi Bloom. Dimulai dari Mengingat, Memahami, Mengaplikasikan, Menganalisis, Mengevaluasi, dan Menciptakan.

Perubahan di level ini pun dengan catatan. Saya kerap menyampaikan bahwa sejauh seseorang mencerna proses pembelajaran, pasti training ini akan menciptakan perubahan. Tapi jika kegiatan mencerna tersebut dimatikan, misalnya menolak atau menerima dengan setengah-setengah, ya sudah pasti perubahan sulit terjadi.

Mencerna berarti seseorang menerima dulu lalu mengolahnya di dalam diri dengan cara mengaitkan, menambah, menyesuaikan, memperdalam, dan seterusnya. Mencerna berarti seseorang menaruh emosi positif terhadap kegiatan training karena menyadari kegunaan atau kepentingannya. Emosi positif adalah cara untuk mengaktifkan gelombang Gamma dalam otak. Gamma merupakan aktivitas otak tercepat dalam menjalankan tugas kognitif.

Tanpa mencerna, ajaran kitab suci pun tak bisa mengubah manusia. Tanpa mencerna, materi yang dihafal di otak manusia akan hilang dalam sekejap. Praktik membuktikan bahwa materi pelajaran yang sudah dihafal susah-susah untuk ujian, hilang begitu saja ketika ujian sudah selesai.

Lalu kapan perubahan yang dihasilkan training itu terjadi pada tim atau kelompok? Untuk materi teknis dengan standar yang jelas, biasanya mudah terjadi sejauh proses training berjalan interaktif atau terjadi hubungan yang saling bergantung di antara mereka.

Namun untuk materi soft skills tertentu, komunikasi dan leadership misalnya, perubahan terjadi secara bertahap sejauh di dalam tim/kelompok tersebut ada kepemimpinan yang concerns terhadap perubahan. Tanpa kepemimpinan yang kuat, perubahan masih sulit diharapkan.

Bagaimana dengan perubahan organisasi? Perubahan yang berskala organisasi sangat variatif di awal. Ada yang berubah hanya di level pengetahuan, atau pengetahuan dan sikap, bahkan ada yang sampai ke perilaku di beberapa orang. Namun untuk menghasilkan perubahan yang masif dan maksimal, tentu training saja tidak cukup. Harus diikuti dengan regulasi, standar, atau manajemen kinerja yang kuat, sosok pemimpin, dan iklim yang mendukung.

Perubahan memang tidak selamanya menghasilkan perbaikan, tetapi semua perbaikan menuntut perubahan.

Artikel

Koneksi PM Gontor dan Bina Insan Mulia Cirebon

Sebuah kehormatan dan keberkahan bagi kami dikunjungi KH. Husnan Bey Fananie (Cucu Pendiri Pondok Modern Gontor dari bani KH. Ahmad Fanani, Sekretaris Badan Wakaf Pondok Modern Gontor, Mantan Dubes RI untuk Azerbaijan, Mantan Stafsus Menag RI Suryadarma Ali dan Gus Elbi Jihaad El-Banna Quthuby (cucu Pendiri Pondok Modern Gontor dari Bani KH. Ahmad Sahal) dan rombongan.

Gontor dan BINA INSAN MUlia memang punya kedekatan emosional dan historis. Saat lepas SD sebelum ke Lirboyo, saya pernah mondok di Gontor walaupun tidak lama. 5 putra-putri saya juga pernah nyantri di Gontor rata2 selama 1 semester (6 Bulan) lalu berpindah-pindah ke tiap pesantren lain rata-rata 6-12 bulan. Jadi saya ini pernah jadi santri dan walisantri Gontor, saya juga bersahabat baik dengan semua alumni Gontor yang kuliah di Al-Azhar Mesir, bahkan Manajer pesantren Bina Insan Mulia 1 dan 2 saat ini adalah alumni Gontor, didampingi para asatidz alumni salaf Lirboyo, Tegalrejo, Lasem, kaliwungu, babakan dll.

Sebetulnya, saya mengenal Kyai Husnan Bey Fanani semenjak 2009 saat itu beliau Staf Khusus Menteri Agama Suryadharma Ali dan saat itu perusahaan saya sebagai rekanan Kementerian Agama, bahkan saat pernikahan kedua beliau saya hadir, namun baru komunikasi lagi saat pilpres 2024. Kami kebetulan sama-sama pendukung Amin (Anis-Muhaimin). Sedangkan Gus Elby, ini silaturahim kedua kali ke Bina Insan Mulia.

Banyak yang kami bincangkan dalam petemuan kali ini, baik terkait politik, dunia pesantren dan sinergi antar kami ke depan. 5 jam berdiskusi terasa sangat pendek, jujur, berbincang dengan beliau mengingatkan saya dengan sosok Kyai Syukri Zarkasi yang saya kenal waktu itu: kritis, visioner, progresif, inklusif dan egaliter, bahkan pandangan politiknya juga fleksibel. Posisinya sebagai Sekertaris Badan Wakaf Gontor membawa harapan baru tentang Gontor di masa depan dengan slogan asal pendiri Gontor “Di atas dan untuk semua golongan” dan menjadi entitas pesantren yang inklusif dan adaptif dengan perkembangan zaman. Kelihatannya Gus Elby Juga se-frekwensi dengan Kyai Husnan Bey…

Lepas pertemuan selesai, tepat tengah malam seluruh rombongan kami hantar ziarah ke nenek moyang Gontor, yaitu Sunan Gunung Djati Cirebon. Gus Elby putra kyai Hasan Sahal yang memimpin tahlil, sedangkan Kyai Husnan Bay Fanani membacakan doa.

Artikel

HARAPAN DAN KETAKUTAN UNTUK KEKUATAN HATI

Ubaydillah Anwar | Heart Intelligence & Soft Skills Specialist

Ketika dikaitkan dengan dorongan berprestasi dan berkontribusi, maka kekuatan inti manusia terletak di hati, bukan di fisik atau di usia. Kiprah Sadiman, kakek dari Wonogiri yang berhasil mengubah hutan tandus menjadi subur, membuktikan itu.

Bertahun-tahun menanam pohon dengan pengorbanan hingga dianggap orang gila, tapi hasilnya mengubah nasib petani. Atas kontribusinya, para petani panen 2-3 kali setahun karena berlimpahnya air di daerah itu.

Berapa banyak kita jumpai orang yang usianya sudah senior, namun memiliki kehebatan yang mengalahkan orang muda. Misalnya dalam hal disiplin, kedekatan dengan Allah, atau pengorbanan. Saya pernah punya pimpinan, jam 7.00 pagi sudah sampai kantor untuk belajar bahasa Inggris, lalu pulang paling akhir untuk privat kajian agama lebih dulu.

Itulah gambaran kekuatan hati. Kekuatan itu kemudian menyuruh pikiran dan anggota badan lain untuk bergerak supaya menghasilkan prestasi atau kontribusi. Apa yang menjadi rahasia kekuatan hati? Ulama tasawuf banyak mengaitkan kekuatan hati dengan harapan dan ketakutan (al-khouf war roja’).

Ketika harapan dan ketakutan itu mendapatkan bimbingan dari ilmu dan dibuktikan dengan amal, maka keduanya akan menghasilkan dorongan berprestasi dan berkontribusi. Keduanya juga akan menghasilkan kehidupan yang progresif namun tetap terjaga keseimbangan (takwa).

Harapan adalah bahan bakar bagi jiwa. Tanpa makan, seseorang bisa bertahan dalam hitungan minggu. Tanpa minum, seseorang bisa bertahan dalam hitungan hari. Tanpa bernafas, seseorang akan bertahan dalam hitungan detik atau menit. Tapi jiwa yang tanpa harapan, jiwa itu mati seketika. Orang bunuh diri bukan karena tidak ada solusi, tapi karena jiwa yang mati.

Dari harapan lahirlah cita-cita, ambisi, emosi positif, strategi tindakan, pembelajaran, dan perjuangan. Walaupun hidup di kota tidak mudah, tetapi karena ada harapan di sana, masyarakat tetap berduyun-duyun ke kota.

Ketakutan juga sangat dibutuhkan untuk mendampingi harapan. Ketakutan mendorong seseorang untuk menghindari bahaya, berhati-hati dalam melangkah, dan mengantisipasi adanya hal-hal buruk di masa depan. Hanya rasa takut kepada Allah SWT yang mendorong seseorang untuk berpegang teguh pada prinsip.

Jadi, harapan adalah penggerak (gas) roda manusia, sedangkan ketakutan adalah penahan (rem). Jika keduanya dijalankan dengan keahlian, maka kemajuan dan keselamatan akan didapatkan. Tanpa keahlian, seseorang bisa terjebak dalam harapan palsu atau harapan kosong.

Nasihat Imam Ghazali dalam kitab Ihya membedakan antara harapan, tipuan kebodohan, dan khayalan. Jika seseorang menanam benih di atas tanah yang gersang lalu dibiarkan, maka mengharapkan panen adalah kebodohan. Jika seseorang menanam benih di atas tanah yang cocok, lalu ditinggalkan begitu, maka mengharapkan panen adalah khayalan. Harapan tetap membutuhkan ilmu dan amal.

Sama juga ketakutan. Tanpa ilmu dan amal, rasa takut akan menghantarkan seseorang menjadi manusia kerdil, minder, pesimis, dan tidak kreatif. Bahkan ada istilah “takut sukses” untuk orang yang tidak mau menjalankan idenya karena takut gagal. Sebab, semua jalan menuju sukses itu pasti ada gagal dimana-mana.

Semoga bermanfaat.

Artikel

MENDADAK JADI IBLIS

Ubaydillah Anwar | Heart Intelligence & Soft Skills Specialist

Hampir semua stasiun TV besar menyajikan program kriminal. Ini kemungkinannya hanya dua: bisa jadi acara itu banyak peminat atau bisa juga yang banyak malah peristiwa kriminal. Catatan kepolisian RI menyebut kejahatan di Indonesia tahun 2023 naik 4.3% hingga menembus 288 ribu kasus dibanding tahun 2022.

Kalau diamati, ternyata banyak pelaku kriminal yang sehari-hari justru orang normal atau orang baik-baik. Mereka mendadak melakukan tindak kejahatan kepada manusia lain padahal profesi atau pekerjaannya terhormat. Ada guru, dosen, istri kiai, pengasuh panti, pejabat, karyawan, polisi, ibu rumah tangga, suami, istri, dan seterusnya.

Bagaimana mungkin orang normal atau orang baik tiba-tiba menjadi pelaku kejahatan? Banyak penjelasan mengenai hal ini. Secara kecerdasan hati dapat dipahami bahwa ketika amarah menguasai hati dalam waktu yang lama atau dalam intensitas yang tinggi, maka kapasitas regulasi diri (self regulation) melemah. Bahkan tidak berfungsi karena kalah oleh amarah. Akibatnya, ia bertindak tanpa regulasi dari dalam.

Beberapa riset psikologi, seperti ditayangkan di www.psychologytoday, mengungkap bahwa 90% tindakan destruktif muncul dari kemarahan (anger) yang tak terkendali. Rasulullah SAW, sebagaimana dikutip Syaikh Nawawi Al-Bantany dalam Nashoihul Ibad, berpesan bahwa kemarahan menghilangkan akal sehat. Akal sehat merujuk pada dua pengertian, yaitu pikiran yang bernalar dengan benar atau hati yang mengeluarkan cahaya.

Artinya, kemarahan yang gagal dikuasai berhadapan dengan orang yang posisinya atau kekuatannya lebih kecil memungkinkan terjadinya tindakan destruktif.

Penjelasan lain mengenai hal ini sering dikaitkan dengan hasil uji coba pakar psikologi Philip Zimbardo dari Stanford University tahun 1970-an yang dikenal dengan The Lucifer Effect. Uji coba itu memberikan bukti lain bahwa orang yang awalnya baik atau baik-baik saja bisa melakukan kejahatan kemanusiaan ketika mendapatkan kekuasaan tanpa batas.

Sejarah manusia dipenuhi praktik yang membuktikan itu. Dengan kekuasaan di tangan, apalagi tanpa batas, manusia sangat mudah menjadi iblis bagi manusia lain. Di era modern ini, kita sering mendapatkan berita dimana pemerintah Korea Utara menghukum mati secara sadis pejabatnya atau warganya.

Sekalipun manusia sudah diberi hati dan pikiran untuk meng-guide perilaku, tetapi dalam kondisi tertentu, keduanya tak berfungsi. Dibutuhkan regulasi, training skill, dan bimbingan ilahi. Semoga bermanfaat.

Artikel

KERACUNAN MORAL, AWAS!

Ubaydillah Anwar | Heart Intelligence & Soft Skills Specialis

Tanpa status agama, manusia masih diberi kesempatan untuk hidup. Tapi tanpa moral, yang merupakan seruan inti agama,  hidup seseorang akan mati. Bisa masuk penjara, menerima hukuman sosial dan pergaulan, atau dihukum mati. Karena itu, menjadi orang bermoral sejatinya bukanlah pilihan.

Bahkan keniscayaan bermoral ini tidak saja berlaku untuk kehidupan pribadi, kehidupan sosial pun sama.  Karena itu, mengobarkan semangat dan gerakan untuk menjaga moral dalam masyarakat menjadi tugas bersama, bukan semata tugas agamawan. Kepastian hancurnya masyarakat diawali dari kepastian diamnya orang-orang yang bermoral.

Meski sedemikian kuat seruannya, tapi menjadi orang yang bermoral, menjadi pejuang moral, dan terkena keracunan moral adalah dua hal yang berbeda. Berbeda nilainya dan dampaknya bagi kehidupan pribadi dan sosial.

Keracunan moral adalah kondisi jiwa yang merasa sudah bermoral (feeling good only) dengan mencaci kesalahan orang lain atau mengoleksi kesalahan diri sendiri. Keracunan moral membuat upaya kita menjadi orang bermoral gagal karena dihentikan oleh perasaan yang merasa sudah bermoral dengan menemukan kesalahan.

Untuk sampai disebut keracunan berarti jumlahnya sudah melebihi batas normal sehingga membuat jiwa seperti orang keracunan. Lebih parah lagi apabila standar moralnya masih personal atau kelompok.

Keracunan moral tentu sangat berbeda dengan pemberi kritik atau koreksi. Kritik sangat dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan kekuasaan, karena kekuasaan memang cenderung menyimpang (jika berlebihan). Demikian juga koreksi yang sangat dibutuhkan untuk hasil yang lebih bagus (kemajuan), atau bahkan hasil yang luar biasa (inovasi).

Pemberi kritik dan koreksi juga berpotensi terkena keracunan moral apabila sudah ngawur, gelap, dan berlebihan. Bahkan penyeru moral, seperti ustadz, kiai, pengamat, psikolog, trainer, motivator, leader, orang tua dan seterusnya juga sangat berpotensi terkena keracunan moral jika berlebihan atau tanpa ilmu (isrofana fi amrina).

Secara umum, keracunan moral memiliki ciri sebagai berikut:

  1. Menggunakan penghakiman dan klaim untuk melabeli
  2. Melemahnya empati seiring dengan menguatnya antipati
  3. Memanfaatkan ‘group thinking’ untuk memperkuat perasaan bermoral
  4. Tidak siap untuk membuka ruang keadilan, misalnya adu argumen, debat, atau dialog

Keracunan moral bisa bersumber dari pemenggalan potongan firman agama yang telah dimodifikasi, kutipan tokoh, atau folk wisdom (kearifan umum). Bagi yang terkena, dampaknya luas. Agama melarang perbuatan mencaci, berghibah, dzolim pada diri sendiri, atau bahkan melihat orang dengan pandangan yang merendahkan.

Secara karakter, keracunan moral semakin memperlemah karakter kita. Sebab, kekuatan karakter didapat dari kesediaan orang untuk menempa diri secara benar dalam menghadapi tantangan hidup, bukan dengan merasa baik setelah memberikan label negatif. Kesalahan orang lain atau kesalahan diri sendiri hanya akan bermanfaat apabila kita olah menjadi tindakan perbaikan atau perubahan (pejuang moral).

Semoga bermanfaat.

Artikel

5 KEGAGALAN TIM YANG MENGACAUKAN KINERJA

Ubaydillah Anwar | Heart Intelligence & Soft Skills Specialist | www.akademisoftskills.com

Praktik membuktikan bahwa kinerja dan keandalan sebuah tim tidak ditentukan oleh kehebatan individu. Ibarat sebuah masakan, justru yang lebih menentukan adalah ramuan dan resep yang dijalankan. Kumpulan orang yang biasa-biasa dapat menghasilkan kinerja yang luar biasa sejauh mendapatkan sentuhan dari ramuan dan resep yang jitu.

Ramuan dan resep tim Anda dapat diolah dari 5 kegagalan tim berikut yang sering mengacaukan kinerja dan melemahkan keandalan.

Pertama, kegagalan arah dan tujuan (kiblat). Ketika tim gagal merumuskan apa yang ingin dicapai, kemana langkah bersama harus digerakkan, lalu di terminal (target-target kecil) mana saja harus berhenti, pasti lemah dan kacau tim itu. Kiblat adalah perajut kekuatan jama’ah yang memungkinkan semua orang berada dalam satu barisan.

Kiblat tidak saja disampaikan sekali, tetapi harus disampaikan dalam jumlah yang tak terhitung kali. Kalau bisa, penyampaian kiblat menggunakan berbagai cara. Misalnya, tujuan besar, tujuan antara, tujuan kecil, cerita, perbandingan, masalah yang menjadi perhatian, angka, renungan, opini, dan lain-lain.

Kedua, kegagalan sinergi kekuatan. Yang dibutuhkan sebuah tim bukan saja hubungan yang harmonis, tapi yang lebih penting lagi adalah hubungan yang sinergis. Sinergi berarti berpadunya berbagai kelebihan yang beragam menjadi kekuatan untuk melangkah ke kiblat yang sama. Di sinilah perlunya job description.

Ketiga, kegagalan mendefinisikan keahlian. Ketika tim gagal mendefinisikan keahlian yang sangat dibutuhkan agar tetap eksis dan maju, maka sudah bisa dipastikan keandalannya lemah. Hari ini, digital skill menjadi syarat dan rukun kerja-kerja profesional. Bayangkan jika kita masuk dalam tim yang tak satu pun menguasai digital skill, padahal layanannya mengharuskan itu? Berbagai riset mengungkap bahwa penguasaan digital skill menyumbang lebih dari 60% dari efektivitas kerja.

Keempat, kegagalan evaluasi dan umpan balik. Setiap tim membutuhkan inovasi, dan sumber inovasi yang paling bagus adalah evaluasi. Inovasi yang dasarnya dari melihat orang lain semata, kerapkali hanya menjadi pertunjukan teatrikal (seremoni) sesaat. Umpan balik juga sangat dibutuhkan oleh tim, bahkan menjadi salah satu cara untuk menghargai dan memotivasi tim, apabila disampaikan dengan cara yang baik dan benar. Kegagalan dalam mengevaluasi dan memberi umpan balik sangat mengacaukan kinerja.

Kelima, kegagalan menempatkan konflik di atas meja. Ketika tim gagal membahas konflik antarindividu di atas meja, yang bisa didiskusikan dan dicari solusinya, sudah pasti kinerjanya terganggu. Konflik antarpribadi masuk ke dalam hati lalu menggumpal menjadi kebencian, kegelapan, atau hilangnya perspektif yang sehat. Pelatihan komunikasi dan penanganan konflik, karena itu sangat penting bagi tim agar setiap orang memiliki skill untuk mengolah gesekan secara konstruktif.

Semoga bermanfaat.

Artikel

KENAPA PROTES DIRI ITU PENENTU KARAKTER PRIBADI?

Serial Kecerdasan Hati

KENAPA PROTES DIRI ITU PENENTU KARAKTER PRIBADI?

Ubaydillah Anwar | Heart Intelligence & Soft Skills Specialist

Sering ada pertanyaan, kenapa ketika di Singapore atau Finlandia, orang Indonesia bisa berdisiplin di ruang publik, tapi begitu sudah kembali, perilaku itu berganti? Seorang teman di Bandara protes. Kesaksiannya, orang habis umrah saja tidak bisa ngantri. Padahal di sana berdoa menjadi umrah yang mabrurah, dan ciri kemabruran adalah akhlak mulia di ruang publik.

Karakter kolektif di ruang publik, memang lebih mudah dibentuk oleh regulasi, manajemen, atau budaya dominan. Kita bisa dengan mudah menghadirkan sifat atau perilaku tertentu di ruang publik karena ikut mayoritas atau takluk pada regulasi.

Dengan sifatnya yang mudah dibentuk itu maka karakter kolektif di ruang publik terkadang tidak disebut sebagai karakter asli pribadi seseorang. Karakter asli dihasilkan dari upaya untuk mengukir sifat ke dalam diri sehingga menjadi jati diri. Karakter asli merupakan hasil dari pencapaian. Karakter kolektif lebih tepat untuk disebut sebagai karakter paksaan atau sebatas ciri khas sosial.

Darimana karakter asli pribadi terbentuk? Jika ada yang bilang bahwa karakter tersebut terbentuk dari pilihan-pilihan kecil sehari-hari, memang itu tidak salah. Pilihan kita dalam merespons keadaan mencerminkan karakter kita. Misalnya, ketika Anda dihadapkan pada kegagalan, di sana banyak pilihan. Pilihan yang sering Anda jalankan itulah karakter Anda.

Apakah pilihan itu muncul begitu saja atau bagaimana? Di sinilah rahasia protes diri. Protes diri adalah ketidakpuasan seseorang pada bagian tertentu dari dirinya yang menghasilkan kesadaran untuk perbaikan atau perubahan. Bagian tertentu itu bisa jadi sebuah sifat, akhlak hubungan, panggilan sosial, atau keahlian. Protes yang demikian akan menjadi penguat karakter.

Tampilnya Bung Karno, Panglima Soedirman, Bung Hatta, KH. Hasyim Asy’ari atau KH. Ahmad Dahlan karena protes pada dirinya apabila diam melihat keadaan. Karena itu, bila membaca konstruksi Imam Ghazali mengenai akhlak, seperti dalam Ihya, maka penolakan (al-ghadhob) menjadi material rohani yang sangat inti untuk menegakkan empat pilar akhlak, yaitu al-hikmah (kebijaksanaan), keberanian (asy-syaja’ah), pengendalian diri (iffah), dan adil.

Penolakan yang dikelola dengan baik dan proporsional, akan menghasilkan keberanian. Tidak disebut berkarakter jika keberanian hilang dari seseorang. Protes yang kuat ke dalam akan menghasilkan keberanian bertindak. Tapi jika penolakan itu berlebihan dan salah arah, maka hasilnya destruktif karena merusak ke dalam dan ke luar, seperti minder, inner conflict, perfeksionis yang tidak jelas, atau protes yang merusak.

Sebaliknya, bila seseorang kurang memiliki penolakan (ifrod), hasilnya pasrah pada keadaan atau menerima secara lemah, dan ini tidak menghasilkan karakter. Bahkan guru besar ilmu tasawuf, Ibnu Athoillah dalam al-Hikam, menyebut sebagai sumber kemaksiatan dan kelengahan. “Ashlu kulli ma’shiatin waghoflatin ar-ridlo anin nafs,” tulis beliau.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Artikel

LIMA PILAR KEPERCAYAAN

Serial Kecerdasan Hati

LIMA PILAR KEPERCAYAAN

Ubaydillah Anwar | Heart Intelligence & Soft Skills Specialist

Dalam hubungan profesional di tingkat individu dan organisasi, kepercayaan (trust) menempati posisi yang paling menentukan. Bahkan melebih hubungan keluarga maupun pertemanan. Sudah biasa kita menyaksikan seseorang lebih memilih orang lain ketimbang keluarganya untuk urusan pekerjaan.

Bahkan dalam dunia kejahatan, kepercayaan mampu mengacaukan bangunan karakter manusia. Orang jahat pun ternyata membutuhkan orang yang terpercaya untuk mengelola hasil kejahatannya.

Berdasarkan hasil riset dan praktik, dibutuhkan lima pilar utama untuk membangun sebuah trust di hubungan profesional, baik di level pribadi maupun organisasi. Yaitu karakter, kompetensi, komunikasi, koneksi, dan sistem.

Pilar karakter menjadi utama. Karakter adalah upaya mengukir sifat-sifat di dalam diri yang menghasilkan karakteristik (ciri utama). Jujur, tanggung jawab, dan loyal adalah karakter yang sangat dibutuhkan dalam hubungan profesional.

Pilar kompetensi menjadi pasangan tak terpisahkan dengan karakter. Kepercayaan seseorang akan langsung menguat ketika melihat karya, portofolio, hasil kerja, atau berbagai bukti kompetensi. Kompetensi berarti seperangkat keahlian yang kita gunakan untuk menjalankan pekerjaan, profesi, atau peranan.

Pilar komunikasi menjadi penjelasan kompetensi dan karakter. Dibutuhkan cara komunikasi yang meyakinkan untuk membangun kepercayaan. Data, saluran, dan desain komunikasi sangat dibutuhkan.

Pilar koneksi menjadi penguat. Lingkungan, jaringan atau tautan dengan pihak-pihak yang sudah mendapatkan trust dari banyak orang akan sangat membantu.

Pilar sistem bagi organisasi sangat dibutuhkan. Kejelasan tata kelola dan manajemen informasi adalah kualitas yang sangat menentukan kredibilitas sebuah sistem.

Praktik sudah membutuhkan, hubungan yang dipenuhi trust akan menjadi hubungan yang positif sehingga terbebas dari konflik yang membebani. Lebih dari itu, hubungan juga menjadi lebih sinergis sehingga menghasilkan manfaat yang lebih riil.

Organisasi yang dipenuhi trust, jauh lebih produktif dan lebih kuat loyalitas orang-orangnya. Survei CEO global tahun 2016 oleh Pricewaterhouse Coopers (PwC) melaporkan,  55% CEO menyimpulkan bahwa kekurangan kepercayaan menjadi hambatan perkembangan organisasi.

 

 

 

 

Home
Profile
Shop
Contact Us